Pertama kali saya berkenalan dengan "gadis" bernama panggilan "investasi" ini, itu ketika tahun 2011 dicomblangi oleh sahabat saya bernama Aditya. Sahabat saya sudah lebih dulu berkenalan dengan gadis ini. Berdasarkan KTP yang dimilikinya, Gadis kecil berbibir tipis mungil dan selalu basah itu, bernama resmi Virgin Gold Mining Coorporation (VGMC) yang beralamat di Panama, Amerika Selatan, RT 69/RW 69 Kelurahan "Bohong", Kecamatan "Pembual", Kabupaten "Dan Aku Percaya", Propinsi "Begitu Saja". Tentu, sebelum mengenal lebih jauh, saya melakukan pendekatan dengan gadis kecil berbibir tipis mungil dan selalu basah itu. Saya googling...

Dan setelah sekian lama saling bertegus sapa, ngobrol, bersenda gurau, saya jadi tahu, ternyata dia memiliki visi dan misi yang cukup menarik buat saya ketika itu. Dia memiliki bisnis Tambang Emas yang menawarkan imbal hasil rata-rata 10% tiap bulannya. Dalam perhitungan singkat saja, kita menyadari dengan imbal hasil seperti itu hanya butuh waktu 10 bulan untuk balik modal. Mmm... Menarik pikir saya. Dan seperti yang sudah diperkirakan, tentu saja dia mengajak saya untuk bergabung dan menyetorkan sejumlah uang kepadanya.

Otomatis saya galau dong, dan butuh masukan dari sahabat saya yang mengenalkan saya dengan gadis kecil berbibir tipis mungil dan selalu basah itu. Setelah saya meminta pendapat sahabat saya, ternyata sahabat saya sudah bergabung lebih awal. Hmm.. sudah "curi start" ternyata, dan semakin menarik pikir saya. Oleh karena itu, dengan cepat saya memutuskan untuk bergabung juga. Waktu itu satuan awal minimal pembelian adalah 1 Lot. Yang mana ketika itu 1 Lot setara dengan $ 1.000 Dollar. Ketika itu juga kurs mata uang $ 1 Dollar setara dengan Rp. 10.000,-. Sehingga 1 Lot saham VGMC setara dengan Rp. 10.000.000,-. Saya memutuskan untuk membeli 6 Lot saham seharga Rp. 60.000.000,- dengan imbal hasil/Dividen rata-rata Rp. 6.000.000,- per Bulan. Saya masih ingat sekali, waktu itu saya melakukan pembelian saham VGMC ini pada tanggal 24, oleh karena itu saya mendapat dividen dari hasil investasi saya setiap tanggal 24 pula. Sejak saat itu tanggal 24 menjadi hari gajian yang ditunggu-tunggu.

Dengan status bujangan, belum berkeluarga, tidak memiliki tanggungan, tinggal di rumah dinas tanpa biaya sewa dan bekerja di pedesaan yang memiliki biaya hidup rendah, dengan uang sebanyak Rp. 6.000.000,- ditambah dengan uang gaji saya sebagai PNS sepertinya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya. Satu-satunya kewajiban yang harus saya pikirkan tiap bulannya adalah angsuran kredit motor pribadi saya sebanyak Rp. 1.090.000,- per bulan. Motor saya ketika itu adalah motor Honda Tiger GL 200R. Biaya hidup saya ketika itu tergolong cukup murah walaupun saya tidak pernah menghitung pengeluaran bulanan saya ketika itu, tetapi pada akhir bulan selalu ada sisa uang untuk ditabung. mungkin juga karena saya tipe orang yang tidak suka nongkrong-nongkrong minum kopi di cafe sehingga tidak banyak uang yang saya keluarkan untuk biaya nongkrong, atau mungkin juga karena di desa tempat saya tinggal itu tidak ada cafe yang bisa untuk ditongkrongi.



Pada masa indah itu, saya telah merasa menjadi orang kaya. Hahahahaha.. Sekaligus saya juga menjadi orang yang dermawan. Setiap kali ada teman ataupun keluarga yang meminjam uang dengan saya, selalu saya approve tanpa banyak omong tanpa banyak syarat. Saya juga membelikan adik saya motor matic secara cash untuk keperluan sekolahnya. Saya juga membantu orang tua saya merenovasi rumah, mensponsori acara-acara atau kegiatan-kegiatan yang ada di rumah orang tua saya seperti acara selamatan, kenduri dan lain-lain.

Bagaimana tidak, selain memberikan dividen tiap bulannya, VGMC juga memberikan fasilitas untuk trading emas. Saya masih ingat, saya sering mendapatkan capital gain dari trading emas rata-rata sebanyak Rp. 1.500.000,- hanya dalam 1-2 jam. Ini setidaknya terjadi minimal 1 kali dalam 1 bulan. Tepatnya pada awal bulan ketika Pemerintah Amerika Serikat merilis data keuangan mereka seperti data pengangguran, data suku bunga FED, data ekspor impor, dan lain-lain. Secara kebetulan di tempat saya tinggal ketika itu ada TV Kabel yang salah satu channelnya adalah Bloomberg TV. Channel ini adalah channel TV asli Amerika Serikat yang khusus membahas ekonomi Negara Paman Sam tersebut dan sedikit membahas ekonomi negara-negara lain. Saya menjadikan Bloomberg TV ini sebagai salah satu referensi saya dalam trading emas di VGMC. 

Ada hubungan yang menarik terkait Bloomberg TV dan Chart/Grafik trading emas VGMC. Ketika Bloomberg TV menyiarkan pemerintah Amerika Serikat menyampaikan data ekonomi mereka secara live, maka chart/grafik trading emas VGMC akan merespon. Bila data yang dirilis bersifat positif, maka chart/grafik trading emas VGMC akan naik. Tetapi bila data yang dirilis bersifat negatif, maka chart/grafik trading emas VGMC akan turun. Menariknya, ada sedikit Delay waktu pergerakan harga dalam grafik trading emas di VGMC dalam merespon data ekonomi Amerika Serikat. Ketika Pemerintah Amerika Serikat merilis data yg bersifat positif dan disiarkan langsung oleh Bloomberg TV pada saat konferensi pers, Chart trading tidak semerta-merta langsung naik. Terdapat delay waktu selama 2-3 menit untuk grafik trading merespon. Setelah masa delay tersebut, barulah kemudian grafik trading emas VGMC ikut naik. Nah, delay waktu inilah yang menjadi kunci keberhasilan saya meraup keuntungan dalam trading emas. 2-3 menit inilah yang memberikan saya waktu untuk berpikir apakah saya harus membeli atau tidak. Semenjak saat itu, channel TV yang sering saya tonton adalah Bloomberg TV, bukan RCTI, SCTV, TRANS, dan sejenisnya.

Setelah beberapa bulan berinvestasi di VGMC, muncul investasi baru bernama Speedline. Di Speedline sedikit berbeda, jika di VGMC satuan investasinya adalah Lot, di Speedline investasi yang ditawarkan berbentuk Paket. Di speedline terdiri dari 3 paket, Paket Bronze, Paket Silver dan Paket Diamond/Platinum dengan biaya tiap paket berbeda. Paket tertinggi adalah Paket Diamond/Platinum. Speedline ini bersifat MLM sama halnya VGMC. Di Speedline ini saya juga ikut mendaftar dan bergabung. Tetapi tidak terlalu fokus, karena imbal hasilnya tidak sebesar VGMC. VGMC masih menjadi primadona bagi saya.

Namun seperti kata pepatah, "it's too good to be true". Terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Well, Investasi di VGMC memang nyata, tapi BODONG. Sehingga status saya yang tadinya adalah orang kaya, mulai kembali ke habitat aslinya. VGMC mulai berhenti memberikan dividen pada bulan oktober 2012 dengan alasan pertukaran/pergantian status kepemilikan atau Mmmmm... entahlah, saya tidak paham alasan tepatnya. VGMC berjanji akan membayarkan dividen kembali setelah proses pertukaran/pergantian ini rampung. Namun hal yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang hingga saat ini. Dan menguaplah modal saya sebanyak Rp. 60.000.000,- tadi. 

Tapi kalau saya hitung kembali, sebetulnya saya sudah balik modal. Saya sudah lebih dari 10 bulan berinvestasi di VGMC, ditambah penghasilan-penghasilan trading emas saya. Bahkan sesungguhnya saya sudah untung. Yang jadi permasalahan adalah keuntungan yang saya dapatkan tersebut tidak saya tabung. Keuntungan yang didapat saya habiskan demi jiwa kedermawanan saya tadi. Saya habiskan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.

Terlepas dari investasi bodong, tidak legal, uang saya habis dan lain-lainnya. Sebenarnya, hati kecil saya berkata ini adalah hal yang saya sukai, mungkin inilah Passion saya, saya suka menonton Blommberg TV, saya suka membaca berita ekonomi, Saya suka melihat grafik/Chart Trading, dan seterusnya, dan seterusnya. Mungkin saya bisa mengatakan bahwa saya suka berinvestasi. Permasalahannya saat itu adalah saya berinvestasi pada hal yg tidak legal. Saya berinvestasi pada sesuatu yang tidak tepat. Tetapi Entah mengapa, saya tetap percaya bahwa pasti ada sebuah investasi yang kurang lebih sama seperti VGMC tapi yang bersifat legal dan yang resmi. Karena ketika saya melihat Bloomberg TV, memang ada yg mempromosikan investasi-investasi serupa dan itu sah, legal dan resmi. Tapi sayangnya ini adalah iklan Amerika, tentu saja Investasi ini ada di Amerika dan tidak untuk orang diluar Amerika, pikir saya.

Akhirnya saya coba googling untuk mencari alternatif investasi yang lain. Saya bertemu dengan investasi yang sedang marak pada saat itu, adalah Trading Forex. Broker yang menawarkan Trading Forex ini bermacam-macam, ada Insta Forex, Gain Scope, dan lain-lain. Waktu itu saya buka akun di Gain Scope dan menggunakan fitur Virtual Tradingnya. Namun karena bersifat virtual, keuntungan/kerugian yang saya dapatkan pun bersifat virtual. Sehingga membuat saya kurang bersemangat. Saya kemudian mencari alternatif investasi yang lain lagi, namun tidak menemukan apa-apa. Dan pencarian saya terhadap program-program investasi pun berhenti.

Pada Tahun 2018, saya tidak sengaja berselancar di twitter dan membaca tweet seseorang yang membahas tentang investasi saham dan perusahaan sekuritas tempat dia berinvestasi. Hal ini mengunggah rasa penasaran saya lagi terkait investasi setelah sekian tahun rasa itu terpendam. Saat itu, dia membahas perusahaan-perusahaan sekuritas yang namanya sangat familiar dengan telinga saya seperti BCA Sekuritas, Mandiri Sekuritas, BNI Sekuritas dan -lain-lain. Nah, ini menarik pikir saya. Saya mengunjungi semua website perusahaan sekuritas tersebut. Setelah saya baca, minimal deposit awal yang harus disetor untuk membuat Rekening Efek/Rekening Dana Investor/Rekening Dana Nasabah cukup tinggi. BNI Sekuritas minimal deposit kalau tidak salah Rp. 2.000.000,- pada saat itu. Mandiri Sekuritas minimal Rp. 5.000.000,- pada saat itu. Angka-angka ini cukup memberatkan saya pada kondisi saat itu sehingga saya mencari alternatif lain. Saya mencoba googling semua perusahaan sekuritas yang ada di Indonesia dan menemukan bahwa Perusahaan Sekuritas bernama Indo Premier adalah yang termurah untuk minimal deposit awal yaitu Rp. 100.000,- saja. Setelah saya googling lagi, Indo Premier merupakan Perusahaan Sekuritas yang cukup senior dan memiliki kantor cabang di kota-kota besar termasuk Pekanbaru. Sehingga jika terjadi apa-apa saya bisa langsung mendatangi kantornya. Akhirnya saya mencoba membuat akun dan membuka rekening di Indo Premier. Indo Premier bekerjasama dengan Bank BCA dalam proses pembuatan rekening. Jadi, walaupun saya membuat akun di Indo Premier, tetapi Rekening Efek saya adalah Rekening BCA. 

Dalam mendaftar, saya cukup mengisi formulir yang ada di website resmi Indo Premier, kemudian mendownload formuir yang kita isi tadi, lalu print, ditanda tangani beserta materai, terakhir dikirim via pos ke Kantor Pusat IndoPremier di Jakarta. Beberapa hari kemudian, saya di telp via Video Call oleh Tim Verifikasi Indo Premier untuk memverifikasi permohonan saya. Saya diwawancarai dengan beberapa pertanyaan, kemudian permohonan saya di Approve. Saya dikirimi Username dan Password untuk masuk ke dalam akun saya, dan akun saya pun jadi. Keseokan harinya saya langsunng isi saldo Rp. 100.000,- agar bisa melakukan pembelian saham.

Pada tanggal 04 juni 2018, saya mencatatkan sejarah dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya saya membeli secara resmi saham sebuah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dan anda tahu saham apa yang saya beli pertama kali..?! Adalah saham perusahaan Tiga Pilar Sejahtera (TPS) dengan kode emiten AISA. Alasan saya membeli perusahaan ini adalah karena makanan yang diproduksinya laku keras di pasaran dan sudah bertahan cukup lama di dunia persilatan makanan ringan. Siapa yang tidak kenal snack TARO...?! Ya, TARO adalah salah satu produk yang di produksi oleh Tiga Pilar Sejahtera. Dari saya kecil hingga saat ini, TARO masih berjaya dan masih laku keras di Pasaran, di jual di Swalayan/Mini Market ternama hingga warung kecil milik paman saya. Di mana-mana selalu ada TARO.

Namun, ketika melakukan pembelian saham, saya tidak membaca lagi laporan keuangan perusahaan dan berita-berita lain terkait perusahaan yang ingin saya beli (maklum ini adalah kesalahan para pemula dalam berinvestasi). Seandainya jika saya membaca laporan keuangan perusahaan, maka saya akan mendapatkan bahwa perusahaan Tiga Pilar Sejahtera saat itu sedang dalam lilitan hutang, Perusahaan sedang dikaitkan dengan kasus Beras palsu/Beras plastik (Karena perusahaan Tiga Pilar Sejahtera juga memproduksi beras) dan beberapa masalah lainnya. Sehingga 1 bulan setelah saya membeli saham perusahaan TPS ini, Sahamnya pun di Suspend hingga saat ini dan tidak bisa diperdagangkan. Huft...

Di luar cerita pembelian saham AISA ini, tidak lama setelah saya membuka akun di Indo Premier, BNI Sekuritas mengadakan promosi dalam pembuatan akun dan rekening investasi. Yang dulunya minimal Deposit awal adalah Rp. 2.000.000,- ketika promosi minimal deposit awal menjadi Rp. 100.000,-. Lalu saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, saya membuat akun lagi dan membuka rekening di BNI Sekuritas. Hingga saat postingan ini dibuat, 2 akun itulah yang saya pakai hingga saat ini.

Mungkin inilah cerita singkat bagaimana saya mulai mengenal investasi, baik itu investasi bodong maupun investasi legal/resmi yang ada di Indonesia. Semoga cerita pengalaman saya ini mampu memberikan nilai positif bagi kita semua. Amin.